Label

Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Selasa

Kajian Medikspot

Merangsang Sinergi Pendidikan dan Organisasi Pada Mahasiswa Kedokteran

Kreasi mahasiswa akan hadir melalui stimulus pengalaman tertentu yang dialaminya. Perkembangan aspek Hard Skill dan Soft Skill senantiasa mencapai puncaknya ketika mahasiswa mengijinkan pengalaman tertentu hadir pada kehidupannya. Tak terbantahkan apabila mahasiswa kedokteran sepintas tergambar berbeda dengan mahasiswa sains terapan lainnya. Mahasiswa kedokteran cukup menuntut ilmu melalui ranah pendidikan dan profesi yang seharusnya akan diraih. Mahasiswa ini tidak akan menyimpang dari apa yang telah dipelajarinya selama ini. Belajar dengan tekun, meraih nilai yang baik serta mengasah keahlian sebagai dokter sudah lebih dari cukup untuk menjadikan seorang meraih puncak pencapaiannya sebagai seorang dokter.

Hal ini dengan serta merta menghasilkan paradigma tepat bahwa mahasiswa kedokteran harus berorinetasi pada pendidikannya tanpa perlu meraih sinergi dengan lingkungan sekitarnya selama proses pendidikan. Beberapa dokter juga memberikan gambaran yang tepat akan hal ini, dengan cakap dan lancar mereka menjelaskan bahwa seorang dokter pasti akan berperan aktif dalam masyarakat secara tepat karena ilmunya. Tidak perlulah aneh-aneh ikutan organisasi, tugas anda adalah belajar. Sangat tepat karena mereka membangun persepsi ini berdasarkan pengalaman pribadi dan memang mereka meraih sukses sebagai seorang dokter handal tanpa pernah menyentuh organisasi.

Pergerakan era semakin tak terkendali, geliat penyakit dan inovasi penyembuhannya sedemikian mencengangkan pula. Kompetisi profesi menjadi arus dan warna yang terus berkembang dalam strata sosial dunia kedokteran. Arus dunia menuntut setiap profesional muda hingga tua harus mampu tampil dengan terorbit. Keterampilan dan keahlian tambahan seorang dokter sebagai profesional justru mampu pelecut untuk pengorbitan seorang dokter. Wawasan sosial dan pandangannya yang berbeda terhadap berbagai permasalahan menjadi penyebab utama seorang dokter mampu tampil dan menjadi seorang yang luar biasa.

Sabtu

Kajian Medikspot

Memahami dan Mengenal Batu Saluran Kemih, Pencegahan dan Penangannya

Reijefki Irlastua
04121401032
 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya






BAB I
Pendahuluan
            Penyakit kuno dengan prevalensi yang cukup tinggi adalah batu saluran kemih (BSK). Sejarah mencatat batu saluran kemih telah di temukan pada mummi mesir yang berusia 4800 sebelum masehi. Catatan medis tentang batu saluran kemih ditulis oleh Hipokrates pada 4 abad sebelum masehi (Menon: 2003 dalam Lina: 2008). Batu saluran kemih seolah tidak pernah berhenti hingga zaman modern dan terus menjadi momok bagi penderitanya. Sesuai dengan namanya, kelainan ini terjadi pada traktus urinarius.
Penyakit ini adalah terbentuknya batu yang disebabkan oleh pengendapan substansi yang terdapat dalam air kemih yang jumlahnya berlebihan atau karena faktor lain yang mempengaruhi daya larut substansi. Resiko Pria 3-4 kali lebih banyak daripada wanita. Hal ini mungkin karena kadar kalsium air kemih sebagai bahan utama pembentuk batu pada wanita lebih rendah daripada laki-laki dan kadar sitrat air kemih sebagai bahan penghambat terjadinya batu (inhibitor) pada wanita lebih tinggi daripada laki-laki. Batu saluran kemih banyak dijumpai pada orang dewasa antara umur 30-60 tahun dengan rerata umur 42,20 tahun (pria rerata 43,06 dan wanita rerata 40,20 tahun). Umur terbanyak penderita batu di negara-negara Barat 20-50 tahun1 dan di Indonesia antara 30-60 tahun (Herman: 1994, Rifki: 2004 dalam Lina: 2008)

Kajian Medikspot


Laktoferin Pada ASI, Keunggulan Asupan Sinergi Fungsional yang Berbasis Imunitas Tubuh Bayi

Reijefki Irlastua
04121401032
 Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya


1.    Latar Belakang
Telaah ilmiah telah membuktikan keunggulan Air Susu Ibu (ASI) terhadap berbagai susu yang diformulasikan serupa dengan ASI. Substansi perlindungan total pada bayi menjadi hal yang paling penting pascapersalinan. Pemberian ASI segera dan berlanjut setelah persalinan adalah upaya tepat dalam pemberian asupan total pada bayi. Pemberian ASI secara eksklusif hingga tubuh bayi mampu menyeleksi dan menyerap makanan asing dengan sempurna menjadi cara terbaik dalam mengawali dan memelihara tumbuh kembang bayi setelah kelahiran.
Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator kesehatan yang sensitif. Menurut catatan Sampurno dalam (askep-askeb.cz.cc) pada tahun 2003, AKB di Indonesia tercatat 35 per 1000 kelahiran hidup, dan terburuk dari data ASEAN Statistik Pocketbook dinegara asia bagian timur dan tengah, bandingkan saja angka kematian bayi di Vietnam adalah 18, Thailand 17, Filipina 26, Malaysia 5,6, dan Singapura 3 per 1000 kelahiran hidup. Imunitas adalah senjata andalan untuk memproteksi si bayi dari ancaman penyakit dan kematian. Peran vital ASI sebagai asupan nutrisi fungsional dini bayi akan sangat berperan pada kelangsungan tumbuh kembang bayi kemudian. Menurut (www.asipasti.co.cc) UNICEF menyebutkan, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kelahiran dapat mencegah kematian sekitar 1,3 juta bayi di seluruh dunia tiap tahun. Dan mengacu pada (www.petitiononline.com) The World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) tahun 2007, memperkirakan 1 juta bayi dapat diselamatkan setiap tahunnya bila diberikan ASI pada 1 jam pertama kelahiran, kemudian dilanjutkan ASI eksklusif sampai dengan enam bulan. Namun, hasil penelitian Ridwan Amirudin pada tahun 2007 yang ditulis dalam (www.asipasti.co.cc), proporsi pemberian ASI Ekslusif pada bayi kelompok usia 0 bulan sebesar 73,1 %, usia 1 bulan sebesr 55,5 %, usia 2 bulan sebesar 43 %, usia 3 bulan sebesar 36%, dan usia 4 bulan 16,7%. Sedangkan pemberian susu formula terus meningkat hingga tiga kali lipat dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Ini berarti mayoritas ibu di Indonesia harus berurusan dengan hukum lantaran penerapan Undang Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 Tentang ASI Eksklusif yang mewajibkan setiap ibu harus memberikan ASI ekslusif pada bayinya hingga usia 6 bulan. Maraknya tampilan iklan kampanye ASI eksklusif diberbagai tempat mulai kalah populer dengan daya tarik iklan susu formula yang menawarkan cara pemberian susu yang lebih mudah, praktis dan bernutrisi seolah lebih baik daripada ASI. Dengan berbagai alasan, akhirnya upaya ibu untuk terus menjaga asupan ASI pada bayinya mulai tergantikan dengan susu formula.
ASI mengandung nutrisi esensial yang cukup untuk bayi walaupun ibu dalam kondisi kurang gizi sekalipun dan mampu mengatasi infeksi melalui komponen sel fagosit (pemusnah) dan imunoglobulin (antibodi). Komponen ASI lain yang juga mempunyai efek perlindungan, antara lain sitokin, laktoferin, lisozim dan musin (Munasir, Zakiudin dan Nia Kurniati, 2006). Pemberian ASI adalah langkah tepat memberikan asupan makanan dengan kandungan nutrisi yang terbaik bagi bayi. Dalam keadaan sangat rentan, ketika bayi belum mampu menerima makanan apapun dari luar, ASI lah yang mempertanggungjawabkan kebutuhan bayi untuk bertahan hidup.
Laktoferin adalah salah satu mikronutrien antibodi yang menjadi titik keunggulan ASI atas susu formula yang marak beredar di pasaran. Hal inilah yang menjadi menarik bagi penulis untuk menjelajahi keunggulan peran aktif sinergis laktoferin pada ASI dibanding susu formula yang berbasis imunitas tubuh bayi. Imunitas bayi adalah jaminan keberlangsungan hidup bayi. Kualitas imunitas bayi akan berindikasi pada AKB yang menjadi indikator kesehatan sensitif dalam suatu negara dan penigkatan kualitas hidup bayi selanjutnya sebgai benih handal generasi penerus bangsa.

2.    Sinergis Nutrien ASI Mengacu Pada Imunitas Bayi

Jumat

Kajian Medikspot


Optimalisasi Sinergis Kearifan Lokal dan Organisasi Intrakampus dalam Mengkreasikan Dokter Akar Rumput Modern

Reijefki Irlastua
04121401032
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

A.    Pendahuluan
            Gemuruh Fakultas Kedokteran yang sarat gengsi menghadirkan stigma tersirat masyarakat akan orientasi kekayaan, pamor, dan gila hormat dari seorang calon dokter.  Asumsi masyarakat akan uang dan intelektual yang memadai sebagai syarat utama seorang dokter adalah jalan licin yang rentan menggelincirkan kualitas Dokter Indonesia masa kini dan akan datang. Seolah tidak ada pilihan bagi pelajar SMA unggulan yang ramai-ramai mencatatkan tujuan sebagai dokter. Hingga kuantitas dokter yang menjadi bom waktu sementara grafik kesehatan masih stagnan dan “Medical Travel” semakin melonjak.
            Genotif (hasil) terbaik adalah capaian optimal dari sinergis Fenotif(bibit) dan Environment (Lingkungan). Perumusan populernya adalah ( G=F+E). Rumus itu berlaku pula dalam menghasilkan Dokter terbaik dan cakap yang sebagaimana mestinya.  Dokter berkualitas adalah dokter yang cakap dalam memimpin, berinteraksi dan memiliki empati disamping kualitas intelektual serta pemahaman ilmu medis yang mumpuni. Hadirnya dokter akar rumput berkualitas adalah kerinduan mayoritas masyarakat Indonesia ditengah hiruk pikuk modernisme dan globalisasi. Environment  menjadi bagian esensial dalam menggembleng dan mengkreasikan dokter akar rumput yang cakap. Kearifan lokal berupa budaya, istiadat dan tradisi sudah seharusnya diserapkan sebagai penonjol charachter builiding mahasiswa kedokteran. Terobosan serapan pengalaman organisasi intrakampus juga  akan melejitkan potensi softskill mereka.