Merangsang Sinergi Pendidikan dan Organisasi Pada Mahasiswa Kedokteran
Kreasi mahasiswa akan hadir melalui stimulus pengalaman tertentu yang dialaminya. Perkembangan aspek Hard Skill dan Soft Skill senantiasa mencapai puncaknya ketika mahasiswa mengijinkan pengalaman tertentu hadir pada kehidupannya. Tak terbantahkan apabila mahasiswa kedokteran sepintas tergambar berbeda dengan mahasiswa sains terapan lainnya. Mahasiswa kedokteran cukup menuntut ilmu melalui ranah pendidikan dan profesi yang seharusnya akan diraih. Mahasiswa ini tidak akan menyimpang dari apa yang telah dipelajarinya selama ini. Belajar dengan tekun, meraih nilai yang baik serta mengasah keahlian sebagai dokter sudah lebih dari cukup untuk menjadikan seorang meraih puncak pencapaiannya sebagai seorang dokter.
Hal ini dengan serta merta menghasilkan paradigma tepat bahwa mahasiswa kedokteran harus berorinetasi pada pendidikannya tanpa perlu meraih sinergi dengan lingkungan sekitarnya selama proses pendidikan. Beberapa dokter juga memberikan gambaran yang tepat akan hal ini, dengan cakap dan lancar mereka menjelaskan bahwa seorang dokter pasti akan berperan aktif dalam masyarakat secara tepat karena ilmunya. Tidak perlulah aneh-aneh ikutan organisasi, tugas anda adalah belajar. Sangat tepat karena mereka membangun persepsi ini berdasarkan pengalaman pribadi dan memang mereka meraih sukses sebagai seorang dokter handal tanpa pernah menyentuh organisasi.
Pergerakan era semakin tak terkendali, geliat penyakit dan inovasi penyembuhannya sedemikian mencengangkan pula. Kompetisi profesi menjadi arus dan warna yang terus berkembang dalam strata sosial dunia kedokteran. Arus dunia menuntut setiap profesional muda hingga tua harus mampu tampil dengan terorbit. Keterampilan dan keahlian tambahan seorang dokter sebagai profesional justru mampu pelecut untuk pengorbitan seorang dokter. Wawasan sosial dan pandangannya yang berbeda terhadap berbagai permasalahan menjadi penyebab utama seorang dokter mampu tampil dan menjadi seorang yang luar biasa.
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Selasa
Sabtu
Kajian Medikspot
Reijefki Irlastua
04121401032
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
BAB I
Pendahuluan
Penyakit kuno
dengan prevalensi yang cukup tinggi adalah batu saluran kemih (BSK). Sejarah
mencatat batu saluran kemih telah di temukan pada mummi mesir yang berusia 4800
sebelum masehi. Catatan medis tentang batu saluran kemih ditulis oleh
Hipokrates pada 4 abad sebelum masehi (Menon: 2003 dalam Lina: 2008). Batu
saluran kemih seolah tidak pernah berhenti hingga zaman modern dan terus
menjadi momok bagi penderitanya. Sesuai dengan namanya, kelainan ini terjadi
pada traktus urinarius.
Penyakit ini
adalah terbentuknya batu yang disebabkan oleh pengendapan substansi yang
terdapat dalam air kemih yang jumlahnya berlebihan atau karena faktor lain yang
mempengaruhi daya larut substansi. Resiko Pria 3-4 kali lebih banyak daripada
wanita. Hal ini mungkin karena kadar kalsium air kemih sebagai bahan utama
pembentuk batu pada wanita lebih rendah daripada laki-laki dan kadar sitrat air
kemih sebagai bahan penghambat terjadinya batu (inhibitor) pada wanita lebih
tinggi daripada laki-laki. Batu saluran kemih banyak dijumpai pada orang dewasa
antara umur 30-60 tahun dengan rerata umur 42,20 tahun (pria rerata 43,06 dan
wanita rerata 40,20 tahun). Umur terbanyak penderita batu di negara-negara
Barat 20-50 tahun1 dan di Indonesia antara 30-60 tahun (Herman: 1994, Rifki:
2004 dalam Lina: 2008)
Kajian Medikspot
Laktoferin Pada ASI,
Keunggulan Asupan Sinergi Fungsional yang Berbasis Imunitas Tubuh Bayi
Reijefki
Irlastua
04121401032
1.
Latar Belakang
Telaah ilmiah telah membuktikan keunggulan Air Susu Ibu (ASI) terhadap
berbagai susu yang diformulasikan serupa dengan ASI. Substansi perlindungan
total pada bayi menjadi hal yang paling penting pascapersalinan. Pemberian ASI
segera dan berlanjut setelah persalinan adalah upaya tepat dalam pemberian
asupan total pada bayi. Pemberian ASI secara eksklusif hingga tubuh bayi mampu
menyeleksi dan menyerap makanan asing dengan sempurna menjadi cara terbaik
dalam mengawali dan memelihara tumbuh kembang bayi setelah kelahiran.
Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator kesehatan yang
sensitif. Menurut catatan Sampurno dalam (askep-askeb.cz.cc)
pada tahun 2003, AKB di Indonesia tercatat 35 per 1000 kelahiran hidup, dan
terburuk dari data ASEAN Statistik
Pocketbook dinegara asia bagian timur dan tengah, bandingkan saja angka
kematian bayi di Vietnam adalah 18, Thailand 17, Filipina 26, Malaysia 5,6, dan
Singapura 3 per 1000 kelahiran hidup. Imunitas adalah senjata andalan untuk
memproteksi si bayi dari ancaman penyakit dan kematian. Peran vital ASI sebagai
asupan nutrisi fungsional dini bayi akan sangat berperan pada kelangsungan
tumbuh kembang bayi kemudian. Menurut (www.asipasti.co.cc)
UNICEF menyebutkan, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kelahiran
dapat mencegah kematian sekitar 1,3 juta bayi di seluruh dunia tiap tahun. Dan
mengacu pada (www.petitiononline.com)
The World Alliance for Breastfeeding
Action (WABA) tahun 2007, memperkirakan 1 juta bayi dapat diselamatkan
setiap tahunnya bila diberikan ASI pada 1 jam pertama kelahiran, kemudian
dilanjutkan ASI eksklusif sampai dengan enam bulan. Namun, hasil penelitian
Ridwan Amirudin pada tahun 2007 yang ditulis dalam (www.asipasti.co.cc), proporsi pemberian ASI Ekslusif pada bayi
kelompok usia 0 bulan sebesar 73,1 %, usia 1 bulan sebesr 55,5 %, usia 2 bulan
sebesar 43 %, usia 3 bulan sebesar 36%, dan usia 4 bulan 16,7%. Sedangkan
pemberian susu formula terus meningkat hingga tiga kali lipat dalam kurun waktu
lima tahun terakhir. Ini berarti mayoritas ibu di Indonesia harus berurusan
dengan hukum lantaran penerapan Undang Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009
Tentang ASI Eksklusif yang mewajibkan setiap ibu harus memberikan ASI ekslusif
pada bayinya hingga usia 6 bulan. Maraknya tampilan iklan kampanye ASI
eksklusif diberbagai tempat mulai kalah populer dengan daya tarik iklan susu
formula yang menawarkan cara pemberian susu yang lebih mudah, praktis dan
bernutrisi seolah lebih baik daripada ASI. Dengan berbagai alasan, akhirnya
upaya ibu untuk terus menjaga asupan ASI pada bayinya mulai tergantikan dengan
susu formula.
ASI mengandung nutrisi esensial yang cukup untuk bayi walaupun ibu dalam
kondisi kurang gizi sekalipun dan mampu mengatasi infeksi melalui komponen sel
fagosit (pemusnah) dan imunoglobulin (antibodi). Komponen ASI lain yang juga
mempunyai efek perlindungan, antara lain sitokin, laktoferin, lisozim dan musin
(Munasir, Zakiudin dan Nia Kurniati, 2006).
Pemberian ASI adalah langkah tepat memberikan asupan makanan dengan kandungan
nutrisi yang terbaik bagi bayi. Dalam keadaan sangat rentan, ketika bayi belum
mampu menerima makanan apapun dari luar, ASI lah yang mempertanggungjawabkan
kebutuhan bayi untuk bertahan hidup.
Laktoferin adalah salah satu mikronutrien antibodi yang menjadi titik
keunggulan ASI atas susu formula yang marak beredar di pasaran. Hal inilah yang
menjadi menarik bagi penulis untuk menjelajahi keunggulan peran aktif sinergis
laktoferin pada ASI dibanding susu formula yang berbasis imunitas tubuh bayi. Imunitas
bayi adalah jaminan keberlangsungan hidup bayi. Kualitas imunitas bayi akan
berindikasi pada AKB yang menjadi indikator kesehatan sensitif dalam suatu
negara dan penigkatan kualitas hidup bayi selanjutnya sebgai benih handal
generasi penerus bangsa.
2. Sinergis
Nutrien ASI Mengacu Pada Imunitas Bayi
Jumat
Kajian Medikspot
Optimalisasi
Sinergis Kearifan Lokal dan Organisasi Intrakampus dalam Mengkreasikan Dokter
Akar Rumput Modern
Reijefki
Irlastua
04121401032
Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya
A. Pendahuluan
Gemuruh
Fakultas Kedokteran yang sarat gengsi menghadirkan stigma tersirat masyarakat
akan orientasi kekayaan, pamor, dan gila hormat dari seorang calon dokter. Asumsi masyarakat akan uang dan intelektual
yang memadai sebagai syarat utama seorang dokter adalah jalan licin yang rentan
menggelincirkan kualitas Dokter Indonesia masa kini dan akan datang. Seolah
tidak ada pilihan bagi pelajar SMA unggulan yang ramai-ramai mencatatkan tujuan
sebagai dokter. Hingga kuantitas dokter yang menjadi bom waktu sementara grafik
kesehatan masih stagnan dan “Medical Travel” semakin melonjak.
Genotif
(hasil) terbaik adalah capaian optimal dari sinergis Fenotif(bibit) dan Environment
(Lingkungan). Perumusan populernya adalah ( G=F+E). Rumus itu berlaku pula
dalam menghasilkan Dokter terbaik dan cakap yang sebagaimana mestinya. Dokter berkualitas adalah dokter yang cakap
dalam memimpin, berinteraksi dan memiliki empati disamping kualitas intelektual
serta pemahaman ilmu medis yang mumpuni. Hadirnya dokter akar rumput
berkualitas adalah kerinduan mayoritas masyarakat Indonesia ditengah hiruk
pikuk modernisme dan globalisasi. Environment
menjadi bagian esensial dalam
menggembleng dan mengkreasikan dokter akar rumput yang cakap. Kearifan lokal
berupa budaya, istiadat dan tradisi sudah seharusnya diserapkan sebagai
penonjol charachter builiding
mahasiswa kedokteran. Terobosan serapan pengalaman organisasi intrakampus juga akan melejitkan potensi softskill mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)
